Home / Catatan Perjalanan / Perdikan Cahyana : Pusat Penyebaran Islam di Purbalingga

Perdikan Cahyana : Pusat Penyebaran Islam di Purbalingga

Purbalingga – Bumi Perwira ternyata sudah mengenal Islam jauh sebelum era Wali Sanga. Perdikan Cahyana adalah pusat penyebarannya yang sudah eksis dan diakui oleh Demak, Kesultanan Islam pertama di Pulau Jawa.

“Raden Patah, sultan pertama Demak, memberikan ‘Serat Kekancingan’ yang mengakui Cahyana sebagai daerah perdikan bebas pajak dan diteruskan oleh Kasultanan Pajang, Mataram sampai Kasunanan Surakarta dan Kasultanan Yogyakarta,” ujar Gunanto Eko Saputro, penulis sejarah dalam Ngaji Bareng di Kedai Pojok bertema ‘Cerita Cinta dan Penyebaran Islam di Purbalingga’, Jumat malam (30/04).

Sebagai informasi, ‘Ngaji Bareng’ adalah konsep mengaji dengan pola diskusi informal yang digelar di kafe-kafe. Temanya beragam yang sebagian besar diikuti oleh anak-anak muda (milenial).

Kembali ke Perdikan Cahyana, Raden Patah diceritakan memberikan Serat Kekancingan itu kepada Syech Makdum Wali Perkasa atas jasanya dalam karena turut serta dalam membangun Kesultanan Demak. “Syech Makdum Wali Perkasa membuat ‘saka tatal’ Masjid Agung Demak yang legendaris bersama Sunan Kalijaga,” kata Gunanto.

Foto : Gunanto Eko Saputro, penulis sejarah dalam Ngaji Bareng di Kedai Pojok bertema ‘Cerita Cinta dan Penyebaran Islam di Purbalingga’, Jumat malam (30/04) – Foto koleksi pribadi Bang Igo

Hal itu disebutkan dalam sumber sejarah Perdikan Cahyana yaitu Babad ‘Cariyosipun Redi Munggul’. Raden Patah mengenali Syech Wali Perkasa berasal dari Cahyana Karabal Minal Muslimin. Nama ‘perkasa’ disematkan kepada pemimpin Cahyana itu karena meluruskan tiang Masjid Agung Demak yang doyong.

Surat Kekancingan itu diberikan pada tahun 1403 Saka atau 1481 Masehi. “Syech Makdum Wali Perkasa adalah tokoh historis yang mebuktikan eksistensi sebuah perdikan, pusat penyebar Agama Islam di Purbalingga yang sudah eksis di abad ke 14-15, satu era dengan para Wali Sanga,” ujarnya.

Surat kekancingan itu, sebagaimana disalin oleh peneliti Belanda yang juga seorang Aspirant Controleur bernama Catharinus Johanes Hasselman pada 1887 dalam karyanya yang berjudul “De Perdikan Dessa’s in Het District Tjahijana; Tijdschrift voor het Binnenland Bestuur” berbunyi sebagai berikut :

“Penget lajang kang idi Pangeran Sultan ing Demak. Kagaduha dening Mahdum Wali Prakosa ing Tjahjana. Mulane anggaduha lajang Ingsun dene angrowangi amelar tanah, sun tulusaken Pamardikane pesti lemah Pamardikane Allah, tantaha ana angowahana ora sun wehi suka halal dunja aherat. Anaha anak putu aba aniaja. Mugaha kena gutukking Allah lan oliha bebenduning para Wali kang ana ing Nusa Djawa. Estu jen Peperdikaning Allah.Titi”
Surat Kekancingan itu membuktikan bahwa Cahyana sudah eksis pada era Kesultanan Demak yang diteruskan oleh Pajang, Mataram sampai Kasunanan Surakarta dan Kasultanan Yogyakarta.

Padahal, Syeh Wali Perkasa merupakan canggah (keturunan keempat) dari Pangeran Munding Wangi yang merupakan pendiri Cahyana. Pada teks ‘Cariyosipun Redi Munggul’ diceritakan Raden Mundingwangi merupakan pangeran dari Kerajaan pajajaran yang menghindari hiruk-pikuk kehidupan bangsawan dan menyepi sampa di wilayah Cahyana.

Singkat cerita, Munding Wangi diislamkan oleh tokoh bernama Syekh Atas Angin dan berganti nama menjadi Syech Jambu Karang. Syech Atas Angin menikah dengan Rubiah Bekti yang merupakan anak dari Syech Jambu Karang. Mereka menurunkan tiga orang putra dan dua orang putri yaitu Syekh Makhdum Husein (Makamnya di Desa Rajawana, Karangmoncol Purbalingga), Syekh Makhdum Madem (makamnya di Cirebon), Syekh Makhdum Omar (makamnya di Pulau Karimun Jawa), Nyai Rubiah Raja (makamnya di Ragasela, Pekalongan), Nyai Rubiah Sekar (dimakamkan di Jambangan, Banjarnegara).

Syekh Makhdum Husen kemudian berputra Syekh Makdum Jamil yang menurunkan dua putra yaitu Syekh Makdum Tores (dimakamkan di Bogares, Tegal) dan Syekh Makdum Wali Prakosa (dimakamkan di Masjid Besar Pekiringan, Karangmoncol Purbalingga).

“Jadi kalau berdasarkan cerita tersebut, Islam berarti sudah masuk sejak era Syeh Jambu Karang yang berdasarkan berbagai sumber hidup pada era 1100 Masehi. Dengan demikian, Islam masuk ke Purbalingga sejak awal penyebarannya di Tanah Jawa,” katanya.

Pada kesempatan yang sama, Muhamad Kholik, founder Griya Petualang Indonesia menyampaikan bahwa fakta-fakta tersebut cukup membanggakan bahwa Purbalingga sudah memiliki pusat penyebaran Islam yang cukup dikenal dan diakui oleh pusat-pusat pemerintahan selama beratus tahun. “Sekarang menjadi kewajiban kita untuk meneruskan cerita dan cinta penyebaran Islam di Purbalingga,” katanya.

Foto : Ngaji Bareng di Kedai Pojok bertema ‘Cerita Cinta dan Penyebaran Islam di Purbalingga’, Jumat malam (30/04) – Foto koleksi pribadi Bang Igo

Sebagai tanah perdikan, Cahyana mampu bertahan melintas jaman selama sekitar 465 tahun dari 1403 S atau 1481 M sampai dengan 1946 M. Tanah Perdikan justru baru dihapuskan oleh Pemerintah Republik Indonesia sebagaimana tertuang dalam UU No. 13 Tahun 1946 tentang Penghapusan Desa-Desa Perdikan yang ditetapkan pada tanggal 4 September 1946.

Dahulu, Perdikan Cahyana meliputi 21 desa yaitu 1. Grantung Andap, 2. Grantung, Kudil, 3. Grantung Gerang, 4. Grantung Lemah Abang, 5. Grantung Kauman, 6. Pekiringan kauman, 7. Pekiringan Lama, 8. Pekiringan Anyar, 9. Pekiringan Bedhahan, 10. Tajug Lor, 11. Tajug Kidul, 12. Rajawana Lor, 13. Rajawana Kidul. Kemudian, ada 14. Makam Wadhas, 15. Makam Bantal, 16. Makam Tengah, 17. Makam Dhuwur, 18. Makam Kidul, 19. Makam Jurang, 20. Makam Panjang dan 21. Makam Kamal.

Saat ini, wilayah itu ada di dua kecamatan, yaitu Kecamatan Karangmoncol dan Rembang, serta 5 desa, yaitu, Pekiringan, Grantung, Tajug, Rajawana dan Makam. (Igo)

About Baryati Kusnadi

Tertarik untuk membuat catatan disetiap perjalanan yang bisa digunakan sebagai pengingat diri sendiri. Dan semoga bisa memberi manfaat buat yang membaca. Buat obyek yang ditulis semoga bisa memberi dampak positif.

Check Also

Butir Kegiatan dan Hasil Kerja Jabatan Fungsional Pranata Komputer Ahli Madya

Untuk pengembangan karier dan peningkatan profesionalisme Pegawai Negeri Sipil (PNS) yang mempunyai ruang lingkup, tugas, …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *